Rabu, 25 Februari 2009

Tak Cukup Hanya Cinta


Glitter Words


“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-masing membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”, jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.

Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah”.

“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri”

“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil tersenyum getir.

by. Megalhiebi

Kamis, 19 Februari 2009

Aaaa

Istilah Teknologi Informasi


  1. blogger : orang atau tim yang merawat, mengisi dan mengurus blog tersebut
  2. browsing : suatu program yang digunakan untuk mengakses internet.
  3. chatting : suatu fasilitas dalam internet untuk berkomunikasi sesama pemakai internet yang sedang on line.
  4. digital : hasil teknologi yang mengubah sinyal menjadi kombinasi urutan bilangan 0 dan1 untuk proses informasi yang cepat, mudah dan akurat.
  5. downloading : mengkopi objek dari internet ke disk; objek da[at berupa teks, gambar, musik, film, dsb.
  6. e- mail : fasilitas dalam internet yang digunakan untuk surat- menyurat boleh antarkota maupun antarnegara.
  7. friendster : suatu fasilitas untuk membuat jaringan pertemanan di dunia internet.
  8. LAN ( Local Area Network) : sebuah sistem jaringan komputer terpadu yang membuat komputer satu dengan yang lain dapat saling berhubungan.
  9. password : kata sandi yang menjadi kode rahasia pengguna.
  10. protocol : beberapa aturan untuk melakukan suatu jaringan tertentu.
  11. telekonferen : konferensi jarak jauh atau komunikasi interaktif antara tiga orang atau lebih yang terpisah jauh secara geografis.
  12. transmitter : pemancar; sender bagian (alat) telepon yang berfungsi mengirim berita (pesan)
  13. server : jenis komputer yang memiliki kemampuan lebih tinggi dan cepat daripada komputer- komputer lain. dalam internet, server merupakan tempat penyimpanan dokumen- dokumen web milik situs web tertentu.
  14. spam : istilah internet untuk menjelaskan segala macam pesan/ berita menjengkelkan , seperti e- mail tak penting, iklan yang tak diminta, e- mail berantai dan iklan di newsgroup.
  15. website : suatu halaman yang memuat situ- situs/ suatu alamat (menu) dalam suatu web.
  16. www (world wide web) : bagian multimedia dari internet dan terdiri dari jutaan halaman web (web page).
  17. hotspot: wilayah terbatas yang dilayani oleh suatu sekumpulan Access Point. Access point adalah sebuah signal penghubung yang mengoneksikan point yang satu dengan point yang lain.

Sabtu, 24 Januari 2009

[Untuk Seorang Sahabat]


Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh. Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan zaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat; Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan angankan. Walau sungguh pun waktu berkuasa, persahabatan sejati takkan mudah pudar olehnya.

Akan kenangan saat mimpi-mimpi bersemi semerbak, dan akan kenangan saat mimpi-mimpi terhempas berkeping di jalan berlubang kehidupan -- dan kau ada di sana sebagai sahabat yang memahami segala keluh kesah. Atas kebaikan yang mungkin tidak kau sadari, oleh sekedar canda yang membuat hidup ini lebih memiliki arti; menjauhkan rasa nyeri sedari.

Dan sahabat, jika apa yang kita miliki memang persahabatan yang tulus, maka ada tali silaturahmi yang mesti kita jaga. Walau jarak merenggangkan ikatan, dan harapan-harapan membawa kita berlayar ke negeri-negeri asing; ketahuilah bahwa ada seorang sahabat yang akan membantumu jika engkau membutuhkannya.

Kado ini tak lebih berharga ketimbang kebaikanmu selama ini. Hanya sekeping tanda mata agar kau tak lupa, bahwa ada – ada bahagia untuk menjadi seorang saudara.

Kaulah Hidup dan Matiku


Kaulah Darahku Juga Nadiku

Kaulah Nafasku Juga Jantungku

Engkaulah Hatiku Dan Juga Jiwaku


Aku Mau Hidup Denganmu

Aku Mau Matipun Karenamu

Aku Mau Disisa Waktuku Bersamamu

Kaulah Senyumku Juga Tawaku

Kaulah Damaiku Juga Bahagiaku

Engkaulah Teduhku Tempatku Bernaung

Kau Yang Slalu Setia Menemaniku

Meresapkan Harumnya Cinta Dihatiku

Kau Yang Menyayangiku Setulusnya

Aku Mau Hidup Denganmu

Aku Mau Hidup Denganmu

Aku Mau Matipun Karenamu

Aku Mau Disisa Waktuku Bersamamu

Hanya Bersamamu

Aku Mau Hidup Denganmu

Aku Mau Matipun Karenamu

Aku Mau Disisa Waktuku Bersamamu

Hanya Bersamamu

Aku Mau Hidup Denganmu

Aku Mau ..

Aku Mau Matipun Karenamu

Aku Mau ..

Kaulah Hidupku Dan Juga Matiku

Cinta Dalam Hati


mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku

ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja


Glitter Words